Oleh, Dono Satrio, S.E.Sy., M.E
Ada masa ketika bangsa ini bangkit karena kesadaran. Bukan karena kekuatan senjata, bukan pula karena kemewahan kekuasaan, melainkan karena munculnya keyakinan bahwa masa depan harus diperjuangkan bersama.
Semangat itulah yang setiap tahun kita kenang dalam Hari Kebangkitan Nasional.
Namun hari ini, tantangan yang dihadapi manusia jauh berbeda. Dunia bergerak sangat cepat. Teknologi berkembang tanpa jeda. Informasi datang tanpa batas. Di tengah semua kemajuan itu, manusia justru sering kehilangan arah, kehilangan ketenangan, bahkan kehilangan makna hidupnya sendiri.
Karena itu, kebangkitan di zaman sekarang tidak cukup dimaknai sebagai kemajuan fisik atau pencapaian materi semata. Kebangkitan sejati harus dimulai dari sesuatu yang paling mendasar dalam diri manusia, yaitu hati nurani yang bersih, jujur, dan tunduk kepada nilai-nilai ilahi.
Ketika hati masih hidup, manusia akan mampu membedakan mana yang benar dan mana yang merusak. Ketika hati masih terhubung dengan Tuhan, ilmu pengetahuan tidak akan melahirkan kesombongan. Kekuasaan tidak berubah menjadi kezaliman. Teknologi tidak dipakai untuk menghancurkan sesama manusia.
Sesungguhnya masa depan peradaban tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sains, tetapi juga oleh kualitas moral manusia yang menggunakannya. Sebab dunia hari ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Dunia sedang membutuhkan lebih banyak manusia yang memiliki kejujuran, kepedulian, dan keberanian untuk menghadirkan solusi.
Sudah terlalu lama ruang publik dipenuhi sensasi. Banyak orang ingin terlihat hebat, tetapi sedikit yang benar-benar ingin bermanfaat. Padahal perubahan besar selalu lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan kesungguhan. Dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dari keberanian memperbaiki diri sendiri sebelum menyalahkan orang lain.
Kita membutuhkan generasi yang mampu berpikir jernih di tengah kebisingan zaman. Generasi yang tidak mudah hanyut oleh arus popularitas. Generasi yang menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar alat untuk mendapatkan pengakuan.
Kebangkitan juga harus dimulai dari keluarga. Dari meja makan tempat anak belajar kejujuran. Dari rumah yang menghadirkan kasih sayang dan adab. Dari orang tua yang tidak hanya mengajarkan cita-cita dunia, tetapi juga menanamkan nilai iman, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.
Di saat yang sama, kita tidak boleh tertinggal dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Anak-anak muda harus didorong untuk mencintai riset, inovasi, kreativitas, dan karya nyata. Tetapi semua itu harus dibangun di atas pondasi akhlak dan ketakwaan agar kemajuan yang lahir benar-benar membawa manfaat bagi kehidupan manusia.
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi bagian dari solusi bagi lingkungan sekitar? Sudahkah ilmu yang kita miliki menghadirkan manfaat? Sudahkah teknologi yang kita gunakan mendekatkan manusia kepada nilai kemanusiaan?
Bangsa ini tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai berbicara. Bangsa ini membutuhkan generasi yang mau bekerja, belajar, berjuang, dan tetap rendah hati. Generasi yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas moral dan spiritualnya.
Mari kita hidupkan kembali semangat pendidikan iman dan takwa yang berjalan seiring dengan sains dan teknologi. Mulai dari keluarga, lingkungan masyarakat, sekolah, masjid, ruang belajar, hingga ruang digital yang kita gunakan setiap hari.
Kebangkitan sejati bukan tentang siapa yang paling terkenal. Kebangkitan sejati adalah ketika manusia mampu menjadi cahaya bagi sekitarnya.
Semoga bangsa ini tumbuh bukan hanya menjadi bangsa yang maju, tetapi juga bangsa yang memiliki hati, akhlak, dan arah hidup yang mulia.
*Sekretaris Umum ICMI ORSAT Serpong Tangsel
*Founder Ruang Muamalah Global
*Pengurus Pusat Asosiasi Nazhir Indonesia
✍️ Selamat Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2026
