Artikel

Sosok Orang Aceh di Logo Kota Salem Amerika Diminta Hapus

Oleh Reza Idria, M.A., Ph.D. [Doctor of Philosophy Antropologi Sosial di Harvard University]  (Artikel ini dikutip dari FB penulis pada 22 Januari 2025]

Minggu ini, tanggal 23 Januari 2025, Gugus Tugas (Task Force) yang dibentuk oleh Walikota dan Dewan Kota Salem, Massachusetts, Amerika Serikat, akan bertemu untuk pertamakali membahas perdebatan terkini mengenai logo Kota Salem.

Beberapa sumber menyatakan bahwa ketika George Peabody mendesain lambang resmi kota itu di tahun 1836 ia memilih menampilkan sosok Po Adam, bangsawan Aceh yang menjadi karib ayahnya Joseph Peabody, seorang pedangang lada terkaya di kota Salem ketika itu.

Namun hubungan Aceh-Salem telah terjalin dua abad sebelum Amerika merdeka. Bisa jadi orang Aceh di logo tersebut datang dari abad sebelumnya. Sejak tahun 1654 hingga 1846, tidak kurang 179 kapal dari benua Amerika melakukan pelayaran ke Aceh.

Salem lalu menjadi satu-satunya kota di Amerika yang kaya dengan lada dari Sumatra dan memilih menggunakan figur di logonya dengan sosok yang jauh dari benua tersebut. Berkesempatan mengunjungi Salem beberapa kali selama program doktoral saya di Harvard, saya tentu bangga ketika tahu pedagang Aceh dipilih sebagai lambang kota Salem.

Pengetahuan tersebut turut saya dengar langsung dari pemandu yang mengantar saya melihat-lihat Friendship, replika kapal niaga Amerika yang pernah dibajak oleh penduduk pesisir di Kuala Batee dan kini ditambat di dermaga tua kota.

Namun sumber sejarah tidak melulu menjadi pemandu bagi perdebatan populer. Pada Oktober tahun 2024 lalu saya sangat terkejut membaca rencana wali kota dan dewan kota Salem menindaklanjuti usulan perubahan logo kota setelah adanya petisi yang mengklaim bahwa figur orang yang ada di lambang itu sebagai ekspresi “rasis dan mereduksi identitas etnis menjadi satu gambar.”  Kelompok pengaju petisi menganggap bahwa sosok yang ada dalam gambar itu adalah karikatur orang Asia Timur.

Hal tersebut berbeda dengan catatan sejarah maupun resepsi masyarakat Salem yang selama hampir dua abad meyakini bahwa figur yang ada dalam logo adalah sosok pedagang rempah khas Sumatra pada abad ke-17 dan ke-18.

Bagaimanapun petisi tersebut telah menyita perhatian publik dan menjadi isu politik di sana sehingga harus dibentuk semacam pansus seperti yang saya sampaikan di atas. Dua bulan lalu, bersama Prof Feener yang juga kelahiran Kota Salem, para sejarawan dan sejumlah intelektual publik Aceh saya berdiskusi tentang masalah ini di ICAIOS. Kami semua menyayangkan tiba-tiba ada sekelompok kecil orang di Salem yang menganggap gambar tersebut “disrespectful and exoticizing”, sehingga mereka minta gambar yang menurut pengetahuan sejarah sebagai figur dari Aceh itu dihapus dari logo Kota Salem.

Menurut kami, klaim bahwa lambang tersebut “mengurangi identitas etnis menjadi satu gambar” dan sebagai tindakan rasis dengan menggunakan kelompok ras tertentu sebagai logo tidaklah tepat. Pedagang Aceh yang digambarkan di logo itu datang dari periode sejarah dan pola hubungan yang berbeda seperti narasi rasial yang kini dominan mempertajam polarisasi masyarakat Amerika.

Kita di Aceh dan mereka di Amerika semoga juga tidak lupa hubungan Aceh dan Salem terus berlanjut dari abad ke-17 (ketika Salem masih sebuah kota pelabuhan dan Amerika belum ada) hingga abad ke-21. Buktinya ikatan tersebut masih terasa signifikan ketika tsunami dahsyat melanda Sumatera pada tahun 2004.

Bisa dilacak di pemberitaan koran Boston Globe bagaimana penggalangan dana bantuan untuk tsunami Aceh di wilayah pantai utara Amerika diorganisir demi menghormati “ikatan lama” antara Massachusetts dan Sumatra.

Minggu lalu, ketika bertemu dengan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, para direktur dan penasihat khususnya yang berkunjung ke Aceh saya menyampaikan perihal tersebut. Hemat saya Task Force yang dibentuk Dewan Kota Salem dan akan bekerja selama 18 bulan itu seyogyanya akan turut meminta pandangan Indonesia dan khususnya Aceh.

Untuk itu satu diplomasi budaya akan diperlukan. Saya berharap keputusan Walikota dan Dewan Kota Salem nantinya tidak dibuat hanya berdasarkan pandangan organisasi atau segelintir orang di sana yang mungkin tidak memiliki hubungan langsung dengan sejarah yang mereka coba wakili atau sikap diambil hanya karena takut dianggap “tidak sensitif”.

Nah apakah figur orang Aceh yang ada logo Kota Salem tersebut perlu dipertahankan? Jika tidak perlu, silahkan scroll kembali lini massa anda seperti biasa. Jika iya, silahkan dibagi, diskusikan, cari sumber tambahan dan jika perlu nanti kita ikut buat petisi

Salinan ini telah tayang di https://www.acehnews.id/news/sosok-orang-aceh-di-logo-kota-salem-amerika-diminta-hapus/index.html.

Related posts

DEFINISI SUKSES VERSI PURBAYA: MATI MASUK SURGA!

icmi tangsel

Demokrasi Semu

Icmitangsel

Berhijrah antara Introspeksi, Resolusi dan Aksi  Perbaikan Berkelanjutan

SURADI SE, MM

9 comments

Arja Wisdom 21 Juni 2025 at 1:20 pm

Orang Aceh ngak kaleng-kaleng, bukan saja berjasa untuk Indonesia, untuk dunia juga… he..he..

Reply
Mister Cendekia 4 September 2025 at 12:42 am

Orang Aceh mendunia, Generasi Muda Aceh…. Ayo bangkit !!!

Reply
CarlosSmunc 5 Februari 2026 at 5:16 am

дизайн прихожей в квартире дизайн двухкомнатной квартиры 43 кв м

Reply
CarlosSmunc 5 Februari 2026 at 5:18 am

дизайн квартиры кв м дизайн двухкомнатной квартиры

Reply
CarlosSmunc 5 Februari 2026 at 5:19 am

дизайн прихожей в квартире дизайн интерьера 2 комнатной

Reply
CarlosSmunc 5 Februari 2026 at 5:26 am

дизайн кухни в квартире дизайн интерьера 2 комнатной

Reply
CarlosSmunc 5 Februari 2026 at 5:26 am

светлый дизайн квартиры дизайн 2 комнатной квартиры

Reply
Walterlaw 7 Februari 2026 at 4:45 am

электро полотенцесушитель полотенцесушитель ванны купить

Reply
Walterlaw 7 Februari 2026 at 4:46 am

полотенцесушители сайт купить полотенцесушитель водяной

Reply

Leave a Comment