by enhaka
(Anggota Dewan Pakar ICMI Tangsel)
Sebuah riwayat dahsyat dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
IDZA MARIDZAL ABDU AU SAFARA, KUTIBA LAHU MITSLA MA KANA YAKMALU MUKIIMAN SAHIIHAN
“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan), maka dicatat baginya pahala amalan sebagaimana saat ia mukim (tidak bepergian) dan sehat.” (HR. Bukhari)
Ini hadist asyik banget. Motivasi sangat super : sangat menenangkan hati saat tubuh terbaring lemah atau saat kesibukan perjalanan yang tidak mungkin beribadah secara normal.
Jika kita selami lebih dalam, hadist ini sebenarnya adalah sebuah peringatan halus sekaligus strategi investasi yang luar biasa bagi seorang mukmin.
- Auto-Debit Pahala
Bayangkan sebuah sistem perbankan di mana tabungan kita terus bertambah meskipun kita sedang tidak menyetor uang, hanya karena kita pernah menjadi nasabah yang sangat rajin di masa lalu.
Begitulah cara Allah memuliakan hamba-Nya.
Namun, ini dia syarat yang tersirat:
Apa yang mau dicatat oleh Malaikat jika saat sehat dan punya waktu luang kita tidak memiliki kebiasaan amal kebajikan apa pun?
Jika saat sehat kita tidak terbiasa dalam gerakan sosial kebajikan atau suka menolong atau bersedekah, maka saat sakit, tentu tidak ada pahala kebajikan dan sedekah yang otomatis dicatat.
Jika saat mukim dan sehat kita tidak terbiasa menolong fakir miskin maka saat sakit dan safar, tidak ada pahala yang terus mengalir.
- Membangun Kebiasaan Mulia
Kebaikan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah kebiasaan (habit). Masa sehat dan masa mukim (menetap) bila diibaratkan bangunan adalah masa pembangunan fondasi.
- Masa Sehat adalah waktu untuk memaksa fisik untuk terlibat dalam komunitas pergerakan amalan kebajikan
- Masa Mukim adalah waktu untuk menyibukkan diri dengan jadwal ibadah mahdzoh (khusus : sholat, puasa, haji, dll) dan ghoiru mahdzoh (umum : semua kebaikan dengan niat mencari ridho Allah) yang tertata.
Contoh sederhana : seseorang yang menjadikan tilawah Al-Qur’an sebagai “napas” hariannya, maka ketika matanya terlalu lelah karena sakit untuk membaca mushaf, Allah memerintahkan malaikat: “Tuliskan untuk hamba-Ku ini pahala khatam yang biasa ia lakukan, karena hanya rasa sakit inilah yang menghalanginya.”
- Waktu Luang Jangan Terbuang
Kita sering tertipu saat berpikir bahwa “nanti kalau sudah pensiun baru ibadah” atau “nanti kalau sudah tidak sibuk baru beramal”. Padahal, hadist ini mengajarkan sebaliknya.
Justru saat kita sedang paling kuat dan paling menetap Itulah saatnya kita “memaksa” diri melakukan amal sebanyak-banyaknya. Mengapa? Agar ketika masa sulit itu datang—dan pasti akan datang—kita memiliki “dana pensiun” pahala yang terus mengalir tanpa henti.
Refleksi Diri
Mari bertanya pada diri sendiri hari ini:
- Jika besok saya jatuh sakit, amalan apa yang akan tetap tercatat untuk saya?
- Apakah saya sudah memiliki “rutinitas langit” yang membuat malaikat tetap sibuk menulis meski saya sedang sakit atau beristirahat?
-tangsel.13626
