Oleh: Dono Satrio, S.E.Sy., M.E.
Di tengah gemerlap pembangunan, manusia modern sering mengira bahwa kemajuan bangsa hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, kecanggihan teknologi, dan tingginya angka investasi. Kota-kota dibangun menjulang ke langit, jalan raya diperluas, industri tumbuh pesat, dan ruang digital bergerak tanpa batas. Namun di balik seluruh capaian itu, manusia justru sedang menghadapi krisis yang jauh lebih mengkhawatirkan: krisis nurani.
Kita hidup di zaman ketika kecerdasan berkembang lebih cepat daripada kebijaksanaan. Informasi melimpah, tetapi kejujuran semakin langka. Pendidikan meningkat, tetapi adab mengalami kemerosotan. Manusia modern mampu menembus angkasa, namun sering gagal menaklukkan hawa nafsunya sendiri.
Di sinilah Islam menghadirkan pesan fundamental bahwa kekuatan sejati suatu bangsa bukan hanya terletak pada besarnya sumber daya, melainkan pada ketundukan masyarakatnya terhadap nilai-nilai kebenaran. Syari’at bukan sekadar simbol ritual dan identitas formal, tetapi fondasi moral yang menjaga martabat manusia sekaligus arah sebuah peradaban.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”
(QS. Al-An‘ām: 153)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang ibadah individual, melainkan juga arah hidup kolektif sebuah masyarakat. Ketika manusia meninggalkan petunjuk Ilahi, maka perpecahan, kerakusan, dan ketidakadilan perlahan berubah menjadi budaya.
Hari ini kita menyaksikan bagaimana korupsi dianggap lumrah, riba menjadi sistem ekonomi global, fitnah menjelma hiburan publik, dan media sosial dipenuhi kebencian yang diperdagangkan demi popularitas. Banyak manusia ingin menikmati keberkahan hidup, tetapi enggan tunduk kepada aturan Allah. Menginginkan hasil yang baik tanpa menempuh jalan yang benar.
Padahal keberkahan tidak pernah lahir dari kebatilan.
Allah Ta’ala memperingatkan:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.”
(QS. Al-A‘rāf: 96)
Ayat ini menegaskan bahwa keberkahan sosial, politik, ekonomi, dan keamanan publik memiliki hubungan erat dengan kualitas iman dan moral masyarakatnya. Islam tidak memisahkan spiritualitas dari kehidupan sosial. Dalam pandangan Islam, kejujuran pedagang adalah ibadah, keadilan pemimpin adalah ibadah, dan menjaga hak rakyat kecil merupakan bagian dari ketundukan kepada Allah.
Karena itu, syari’at sejatinya hadir untuk menjaga kehidupan manusia, bukan menindasnya. Dalam kajian maqāṣid al-syarī‘ah kontemporer, para cendekiawan Muslim menjelaskan bahwa tujuan syari’at adalah melindungi agama, jiwa, akal, harta, kehormatan, dan kemanusiaan itu sendiri. Syari’at bukan ancaman bagi peradaban, melainkan kompas moral agar kemajuan tetap berpihak kepada keadilan dan kemaslahatan.
Sejarah Islam telah memberikan bukti nyata tentang bagaimana syari’at mampu melahirkan masyarakat yang kuat dan bermartabat. Salah satu contoh paling monumental adalah kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah.
Beliau memimpin bukan dengan kemewahan, melainkan dengan rasa takut kepada Allah. Kekuasaan tidak dijadikan alat memperkaya keluarga, tetapi amanah untuk menegakkan keadilan. Harta negara yang dirampas dikembalikan kepada rakyat. Korupsi diberantas tanpa pandang bulu. Distribusi zakat diperkuat. Hak kaum miskin dijaga.
Hasilnya bukan sekadar stabilitas politik, melainkan kesejahteraan sosial yang nyata. Dalam banyak riwayat sejarah disebutkan bahwa para petugas zakat pernah mengalami kesulitan menemukan mustahik karena tingkat kemiskinan menurun drastis.
Peristiwa itu membuktikan satu hal penting: keadilan tidak lahir dari slogan, melainkan dari ketakwaan yang diwujudkan dalam kebijakan.
Sebaliknya, sejarah juga mencatat bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena miskin sumber daya, melainkan karena rusaknya moral elite dan hilangnya keadilan hukum. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang membinasakan umat sebelum kalian adalah apabila orang terpandang mencuri mereka membiarkannya, namun apabila orang lemah mencuri mereka menghukumnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini terasa sangat relevan di era modern. Ketika hukum tajam kepada rakyat kecil namun lunak kepada pemilik kuasa, sesungguhnya kehancuran sedang dipersiapkan secara perlahan.
Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang paling kaya, melainkan bangsa yang mampu menjaga integritas moralnya.
Hari ini umat Islam tidak kekurangan orang pintar. Kita memiliki profesor, pejabat, pengusaha, teknokrat, dan intelektual. Namun sering kali kita kekurangan keteladanan. Banyak yang fasih berbicara tentang agama, tetapi gagal menghadirkan akhlak Islam dalam kehidupan publik.
Padahal syari’at bukan hanya tentang simbol penampilan atau jargon politik. Syari’at adalah kejujuran dalam perdagangan, amanah dalam jabatan, kesantunan dalam keluarga, etika dalam bermedia sosial, serta keberanian membela keadilan.
Syari’at harus hadir di pasar agar ekonomi bersih dari penipuan.
Syari’at harus hadir di sekolah agar ilmu melahirkan adab.
Syari’at harus hadir di ruang digital agar teknologi tidak kehilangan moralitas.
Syari’at harus hadir dalam pemerintahan agar kekuasaan tidak berubah menjadi kerakusan.
Tanpa moral, kemajuan hanya akan melahirkan manusia-manusia cerdas yang kehilangan arah.
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra‘d: 11)
Perubahan bangsa tidak dimulai dari pidato-pidato besar, melainkan dari perubahan karakter manusia. Dari pemimpin yang takut berkhianat. Dari pedagang yang menolak curang. Dari pemuda yang menjaga kehormatan dirinya. Dari keluarga yang membangun rumah tangga di atas iman dan kasih sayang.
Kebangkitan sejati bukan hanya soal pembangunan fisik, melainkan pembangunan hati nurani.
Di era modern, tantangan umat tidak hanya datang dari kemiskinan material, tetapi juga dari krisis makna hidup. Banyak manusia kehilangan arah karena dunia dibangun di atas kompetisi tanpa moral dan kebebasan tanpa tanggung jawab. Karena itu, Islam hadir bukan untuk menghambat kemajuan, melainkan memastikan bahwa kemajuan tetap berpihak kepada kemanusiaan.
Bangsa yang jauh dari nilai Ilahi mungkin mampu tumbuh cepat, tetapi belum tentu mampu bertahan lama. Sedangkan bangsa yang dibangun di atas kejujuran, amanah, keadilan, dan ketakwaan akan memiliki fondasi yang kokoh menghadapi zaman.
Sebab pada akhirnya, sejarah selalu membuktikan:
Taat syari’at, rakyat akan kuat.
Kuat imannya.
Kuat akhlaknya.
Kuat ekonominya.
Kuat persatuannya.
Dan kuat menghadapi masa depan peradaban.
Profil Penulis:
- Sekretaris Umum ICMI ORSAT Serpong Tangerang Selatan
- Founder Ruang Muamalah Global
- Pengurus Pusat Asosiasi Nazhir Indonesia 📝Referensi Literatur:
- Dodi Irawan, Studi Keislaman: Materi Perkuliahan di Perguruan Tinggi Islam (2024).
- Luqman Nul Hakim, Islamism and the Quest for Hegemony in Indonesia (2023).
- Gustian Djuanda dkk., Penerapan Hukum Islam di Indonesia (2023).
- The Multidimensional-Progressive Logic of Al-Maqasid Al-Syari’ah for the Development of Humanitarian Fiqh (2023).
- Omerta and Its Implications for Eradication of Criminal Acts of Corruption: Integration of Maqasid Sharia (2023).
- Islam and Prosper Indonesia: Contestation and Fragmentation of Contemporary Islamic Thought (2023).
