Oleh : Saeed Kamyabi, Cendekiawan Tangsel,
Inisiator Sistem Ekonomi Langit.
Di tengah hiruk pikuk perdebatan tentang arah ekonomi bangsa, sebuah pertanyaan mendasar terus menggema: Mengapa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan oleh semua lapisan masyarakat?
Mungkin jawabannya terletak pada paradigma yang selama ini kita anut. Kapitalisme, dengan fokusnya pada akumulasi modal, dan sosialisme, dengan kontrol negara yang dominan, keduanya memiliki keterbatasan. Keduanya adalah produk pemikiran manusia yang rentan terhadap bias dan kepentingan tertentu. Adakah alternatif yang lebih holistik?
Sistem Ekonomi Langit: Lebih dari Sekadar Konsep, Sebuah Visi Kesejahteraan Berkelanjutan
Saeed Kamyabi menawarkan sebuah solusi: Sistem Ekonomi Langit. Ini adalah sistem ekonomi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan materi, tetapi juga pada keberkahan, keadilan, dan keseimbangan. Sistem ini mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan etika universal dalam setiap aspek kegiatan ekonomi, mulai dari produksi, distribusi, hingga konsumsi. Ini bukan hanya untuk kelompok agama tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia yang mendambakan harmoni dalam kehidupan ekonomi. Ternate telah membuktikan, dan daerah lain mulai menunjukkan potensi yang sama.
Di bawah kepemimpinan seorang Gubernur Sherly Tjoanda yang visioner, Ternate berani mengadopsi prinsip-prinsip Sistem Ekonomi Langit. Hasilnya? Pertumbuhan ekonomi yang melesat hingga 32%, jauh melampaui rata-rata nasional. Ini bukan hanya angka, tetapi juga peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Lebih dari Sekadar Statistik: Kisah Sukses dari Timur Nusantara
Ternate bukanlah anomali. Mari kita lihat provinsi-provinsi yang menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia saat ini:
- Papua Barat (13,01%): Contoh nyata bagaimana pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, dengan melibatkan masyarakat lokal dan memperhatikan kelestarian lingkungan, dapat meningkatkan kesejahteraan. Misalnya, program pengembangan ekowisata berbasis masyarakat adat yang memberikan dampak ekonomi langsung dan melestarikan budaya lokal.
- Papua (11,30%): Potensi besar yang diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur yang inklusif dan memperhatikan hak-hak masyarakat adat. Contohnya, pembangunan jalan dan jembatan yang membuka akses ke wilayah-wilayah terpencil, namun tetap menghormati hak-hak adat dan lingkungan.
- Maluku (9,79%): Ekonomi yang menggabungkan kekayaan laut dengan kearifan lokal. Contohnya, pengembangan industri perikanan berkelanjutan yang melibatkan nelayan tradisional, dengan memberikan pelatihan dan akses ke teknologi yang ramah lingkungan.
- Gorontalo (9,78%): Konsistensi pertumbuhan berkat masyarakat yang religius dan budaya gotong royong yang kuat. Contohnya, pengembangan koperasi syariah yang memberdayakan UMKM, dengan memberikan pembiayaan yang adil dan pelatihan manajemen.
- Sulawesi Tengah (8,96%): Kebangkitan pasca bencana yang menginspirasi, dengan semangat kewirausahaan dan solidaritas sosial yang tinggi. Contohnya, program rehabilitasi ekonomi yang fokus pada pelatihan keterampilan dan pemberian modal usaha, dengan pendampingan yang berkelanjutan.
Provinsi-provinsi ini adalah bukti konkret bahwa pendekatan ekonomi yang berbeda, yang berani keluar dari zona nyaman dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, dapat membuahkan hasil nyata. Inilah momentum yang tepat untuk menjadikan Sistem Ekonomi Langit sebagai paradigma pembangunan nasional.
ICMI Tangsel: Agen Perubahan di Tingkat Lokal
ICMI Kota Tangerang Selatan memiliki peran strategis untuk mewujudkan visi ini. Dipimpin oleh Walikota Benyamin Davnie dan Sekretaris Arief Jamaluddin, ICMI Tangsel memiliki dua aset utama: pemikiran transformatif dari para cendekiawan dan kemampuan aksi dari jaringan yang solid. Mereka adalah katalisator perubahan yang diharapkan masyarakat.
Saatnya Beraksi: Dari Wacana ke Implementasi Nyata
Gelombang perubahan sudah semakin kuat. Pertumbuhan pesat Bank Syariah, Koperasi Syariah, dan lembaga keuangan syariah lainnya adalah indikasi bahwa masyarakat merindukan sistem ekonomi yang lebih adil, berkelanjutan, dan beretika.
Maka kepada ICMI Tangsel, kami menyerukan:
- Fasilitasi Dialog Konstruktif dan Inklusif: Selenggarakan diskusi mendalam tentang Sistem Ekonomi Langit, dengan mengundang para ahli dari berbagai disiplin ilmu, praktisi ekonomi, birokrat, perwakilan masyarakat sipil, dan tokoh agama. Pelajari keberhasilan Ternate, Maluku, dan daerah lainnya, serta identifikasi tantangan dan peluang implementasinya di Tangsel.
- Rancang Uji Coba yang Terukur dan Berdampak: Manfaatkan posisi strategis Walikota untuk merancang pilot project atau peraturan daerah yang mengadopsi prinsip-prinsip Sistem Ekonomi Langit. Misalnya, dalam pengelolaan BUMD, program pemberdayaan UMKM, sistem pengadaan barang dan jasa pemerintah, atau sistem distribusi bantuan sosial yang transparan, akuntabel, dan tepat sasaran.
- Edukasi dan Sosialisasi yang Komprehensif dan Berkelanjutan: Sebarkan informasi tentang keunggulan Sistem Ekonomi Langit melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media sosial, seminar, workshop, dan pelatihan. Tampilkan data dan kisah sukses dari daerah lain, serta libatkan tokoh-tokoh inspiratif dan influencer untuk memperluas jangkauan pesan. Ubah narasi dari sekadar “ekonomi syariah” menjadi sistem ekonomi yang komprehensif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
- Bangun Kemitraan Strategis dan Kolaboratif: Jalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Ternate, Maluku, Gorontalo, dan daerah lainnya yang telah berhasil menerapkan prinsip-prinsip Sistem Ekonomi Langit. Belajar dari pengalaman mereka, adaptasi praktik terbaik, dan bangun jaringan dukungan yang kuat.
Perubahan besar dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. ICMI Tangsel memiliki semua sumber daya dan kapasitas untuk menjadi pelopor perubahan ini.
ICMI Tangsel, saatnya keluar dari zona nyaman, terjun ke lapangan, dan mewujudkan visi ekonomi yang adil, berkah, dan berkelanjutan. Mulailah dari Tangsel, dan jadilah inspirasi bagi Indonesia!
